Selasa, 16 Oktober 2012
Tulisan Saya Dimuat di Majalah Gema WK
Orientasi Baru dalam Pembelajaran
Oleh: Mujianto*
Bayak temuan model atau strategi pembelajaran yang dinyatakan baru
mulai dari pedagogig, andragogig, cooperative learning, contextual
learning, sampai pembelajaran berbasis projek (Tinkquest), dll.
semuanya tidak ada yang benar-benar baru alias hanya hasil inovasi
(rekayasa ulang/sintesis) strategi pembelajar yang sudah ada
sebelumnya. Pengertian baru di sini hanya pada tataran orientasinya
saja yang baru, dalam kata lain baru diperkenalkan atau ditinjau
supaya dikenal oleh masyarakat luas.
Sejalan dengan itu, bermunculan buku-buku model-model pembelajaran dan workshop-workshop
yang diikuti pendidik mulai dari Pakem, Paikem, pembelajaran kooperatif,
pembelajaran kontekstual dll. Semua berupaya membekali pendidik agar proses kegiatan belajar
mengajar (KBM) dalam pembelajaran berhasil secara efisien dan efektif. Upaya meningkatkan
menerapkan konsep-konsep baru yang diperoleh untuk dilaksanakan.
Apalagi beban administrasi yang harus ditanggung setiap pendidik sesuai tuntutan KTSP
sesuai standar isi dan standar kelulusan (SKL) teramat sarat. Beban ini yang dijadikan alasan
sebagian besar guru berjalan di tempat alias hanya melaksanakan kewajiban rutin sehari-hari.
kreativitas dan inovasi di kalangan komunitas pendidik disinyalir karena orientasi dalam
pembelajaran kita tidak mengikuti trends global. Hal ini pula yang menyebabkan pendidik kita
tidak memiliki daya saing nglobal.
Belajar dari Negeri Pangeran Charles
Beberapa bulan yang lalu pendidik dari negeri Inggris tepatnya dari Wales datang ke
Indonesia. Mereka menggandeng Britist Consil (LSM) menawarkan kerja bareng dengan
sekolah-sekolah dasar mitra di Indonesia dalam bidang Psical Education (PE) dan
Kepemimpinan Remaja dalam Olahraga (Young Sport Leader) dengan tajuk “Wold Inspiartion.”
Dari keja sama tersebut kita bertukar-menukar informasi sampai kepada hal-hal kecil yang
dilakukan peserta didik dalam KBM. Ada beberapa hal baru yang mungkin dapat ditularkan di
sini.
Pertama, seluruh institusi pendidikan di Inggris dalam rangka menyambut dan
menyukseskan Olympiade yang akan diadakan di negaranya menumbuhkembangkan demam
olahraga. Hal ini diinspirasikan dari peserta didik usia dini (Paud) sampai perguruan tinggi.
Tingkat kesulitan dan penilaiannya disesuaikan dengan kelompok usia. Berbeda dengan orientasi
dalam pendidikan di negara kita yang berbasis antisipatif, tidak menjemput bola tetapi menunggu
terjadi keterpurukan baru diperbaiki. Tidak adanya orientasi berbasis trend yang akan datang,
membawa bangsa kita selalu ketinggalan informasi.
Kedua, merekrut peserta didik tiap tingkatan yang menonjol dalam bidang olah raga dan
bahasa Inggris untuk dibina menjadi pemimpin olahraga (Young Sport Leader). Mereka yang
direkrut 1orang guru olahraga dan 3 orang peserta didik untuk mengikuti pelatihan. Selanjutnya
pendidik ini tugasnya hanya mendampingi siswa dalam pembelajaran olahraga berbasis proyek.
Konsep learning to do, siswa yang mengalami atau sebagai subjek yang belajar dan guru sebagai
vasilitator di sini benar-benar diterapkan. Selanjutnya siswa yang telah menjadi leader ini
menularkannya kepada siswa lain dan memprakarsai kegiatan mini olympiade atau kegiatan lain
yang diikuti oleh peserta didik kelas di bawahnya.
Ketiga, menyadari abad informasi siapa yang menguasai komunikasi dengan baik akan
memenangkan persaingan global. Penerapannya sampai kepada pembelajaran olahraga, di sana
seusai berolahraga siswa diminta mengarang atau menulis tentang apa yang telah dipelajari
sebagai refleksi sekaligus mengajarkan peserta didik mengkomunikasikan apa yang telah
dikuasai secara tertulis. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh guru olahraga di negara kita. Bahkan
guru bahasa Indonesia atau bahasa Inggris jarang meminta siswanya melakukan refleksi dalam
bentuk tertulis seperti itu.
Keempat, kesinergisan setiap jenjang pendidikan. Sebagai misal, siswa kelas II SMP di
sana diminta mengarang buku olahraga dari hasil refleksi diakhir pembelajaran dikumpulkan
dijilid dan diterbitkan menjadi buku ajar di kelas II SD. Keunggulannya, siswa kelas II SD lebih
mudah memahami bahasa peserta didik setingkat di atasnya daripada memahami bahasa gurunya
(bahasa orang dewasa). Adanya keterkaitan pembelajaran SD dengan SMP, tidak seperti di sini
SD dengan SMP sesama tingkat pendidikan dasar seperti terpisah. Seolah-olah disini pendidikan
dasar SD 6 tahun ditambah 3 tahun sekolah menengah pertama, bukan pendidikan dasar 9 tahun.
Selain itu, pendidik tidak lagi dipusingkan dengan bahan ajar dan media pembelajaran
hanya menyeleksi sekaligus mengevaluasi hasil refleksi siswa yang terbaik dibukukan menjadi
bahan ajar pada tingkatan di bawahnya.
Kritis, Inovatif dan Kreatif
Untuk mengatasi ketertinggalan orientasi dalam pembelajaran di sekolah guru harus
memiliki sikap kritis, inovatif dan kreatif, sikap dan perilaku ini juga harus ditularkan kepada
peserta didik di sekolah.
Oleh karena itu strategi pembelajaran pada pendidikan sekolah harus diberi fondasi
terlebih dahulu dengan internalisasi sosiologi kritis, inovasi, kreativitas, dan mentalitas (Agger,
2006). Hal ini tidak berhenti pada fondasi saja, tetapi juga diupayakan merasuki kurikulum yang
ada pendidikan sekolah. Selain itu, juga mengubah strategi pembelajaran yang selama ini
berdasarkan pada konsep reproductive view of learning menjadi constructive view of learning.
Konsep ini pada dasarnya membangun tanpa merusak fondasi yang sudah baik pada proses
belajar mengajar selama ini.
Konsep reproductive view of learning yang selama ini dihasilkan hanya menghasilkan
keluaran yang bersifat mengikut saja tanpa mampu bersikap kritis, kreatif, dan mempunyai nilainilai
mental. Ini berbeda dengan konsep constructive view of learning yang berpegang pada nilainilai
kritis, kreatif, dan nuansa mentalitas. Dalam konsep ini agar dihasilkan mutu pendidikan
yang berkualitas, maka peserta didik diinternalisasi dengan sikap kritis. Salah satu diantaranya
adalah dengan paradigma dekonstruksi, keluar dari kotak awal pengetahuan yang membelenggu,
serta dijiwai nilai-nilai mentalitas berupa kejujuran, keadilan, kasih, dan sayang.
Suatu inovasi tidak begitu saja dapat diterima. Perubahan-perubahan yang dibawa inovasi
memerlukan persiapan dan waktu yang panjang, Kecepatan pelaksanaannya tergantung pada
kondisi sekolah dan kesiapan para pelaksana (Hasan, 1995), Cepat atau lambatnya suatu inovasi
diterima oleh masyarakat atau sekolah tergantung pada karakteristik inovasi tersebut.
Konsekuensi inovasi ialah perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai hasil dari
penerimaan atau penolakan dari suatu inovasi.
Melakukan kreativitas dalam pendidikan sekolah terkadang berbenturan dengan
pelanggaran aturan yang ada. Aturan yang selama ini dibuat dan disimpan dalam kotak tidak
boleh dilanggar atau dilakukan perubahan. Untuk itu, perlu mendesakralisasi aturan tersebut
dengan melakukan perubahan. Lebih lanjut Buzan dan Buzan (2003) mengemukakan untuk
merubah aturan tersebut menjadi lebih baik, maka harus berpegang pada filosofi aturan tersebut
serta berpikir di luar kotak (out of the box).
Proses berpikir di luar kotak yang belum banyak diasah oleh para guru dan siswa. Bahkan
tidak hanya berpikir di luar kotak, tetapi juga merangsang untuk menciptakan kotak baru dengan
berpijak pada proses berpikir di luar kotak. Jika hanya berpikir di luar kotak yang selalu
digunakan dan dihandalkan, maka akan terjadi proses konstruksi yang destruksi. Proses
kreativitas dalam pendidikan sekolah juga dapat dibuat dengan berpijak pada asumsi yang ada
maupun yang diciptakan. Pendidikan bersandar pada asumsi yang ada, dengan menghilangkan,
mengurangi, atau menambah asumsi-asumsi yang ada akan tumbuh kreativitas yang
berkelanjutan. Semua usaha di atas terpulang kepada pendidik sebagai supervisor, administrator
dan vasilitator di kelas dalam megelola KBM. *Mujianto Guru Penulis Ilmiah Populer.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar